Gasly Mengaku Menderita Sepanjang GP Singapura 2025 – Pembalap Alpine Pierre Gasly mengaku menjalani salah satu balapan paling sulit sepanjang musim di Grand Prix (GP) Singapura 2025. Balapan yang digelar di Sirkuit Marina Bay itu benar-benar menguras fisik dan mental sang pembalap asal Prancis. Ia menyebut kondisi mobil yang rajamahjong sulit dikendalikan serta suhu ekstrem menjadi faktor utama penderitaannya sepanjang akhir pekan.
Sirkuit Marina Bay Jadi Ujian Berat
Sirkuit jalan raya Marina Bay memang terkenal sebagai salah satu lintasan paling menantang di kalender Formula 1. Dengan suhu panas, kelembapan tinggi, serta tikungan sempit, balapan di Singapura menuntut ketahanan maksimal dari setiap pembalap. Gasly pun mengaku bahwa kondisi tersebut membuatnya hampir kehilangan konsentrasi di pertengahan lomba.
“Balapan ini benar-benar brutal. Dari awal hingga akhir saya harus berjuang agar mobil tetap di lintasan,” ujar Gasly dalam wawancara pasca-balapan. “Grip sangat rendah, suhu di kokpit mencapai lebih dari 60 derajat, dan mobil kami tidak memberikan keseimbangan yang saya harapkan.”
Ia juga menambahkan mahjong bahwa tekanan fisik di Singapura jauh lebih berat dibandingkan di sirkuit manapun musim ini. “Rasanya seperti berlari maraton di sauna sambil berusaha menjaga fokus pada kecepatan. Ini sungguh menyiksa,” tambahnya.
Mobil Alpine Dinilai Tidak Kompetitif
Selain kondisi fisik yang berat, Gasly juga menyoroti performa mobil Alpine A525 yang belum mampu bersaing di lintasan berkarakter lambat seperti Marina Bay. Mobilnya kerap mengalami understeer dan kesulitan menghasilkan traksi yang baik keluar dari tikungan. Hal ini membuat Gasly kesulitan menjaga ritme dan kehilangan banyak waktu di sektor-sektor penting.
“Kami kekurangan downforce dan mobil terasa tidak stabil di bagian belakang. Itu membuat saya sulit menyerang atau mempertahankan posisi,” jelas Gasly. “Kami sudah mencoba beberapa setelan selama latihan, tetapi tidak ada yang benar-benar berhasil.”
Gasly finis di luar zona poin, sebuah hasil yang mengecewakan bagi pembalap berusia 29 tahun itu. Ia menilai Alpine perlu bekerja keras memperbaiki performa mobil menjelang balapan berikutnya agar bisa kembali ke jalur persaingan.
Fokus Pulih dan Siapkan Balapan Berikutnya
Meski merasa menderita di Singapura, Gasly tetap berusaha mengambil sisi positif dari pengalaman tersebut. Ia menilai setiap kesulitan memberi pelajaran berharga untuk meningkatkan performa dirinya dan tim. Gasly berencana untuk segera melakukan evaluasi mendalam bersama para insinyur Alpine sebelum menuju seri berikutnya di Jepang.
“Saya harus memulihkan kondisi tubuh dan kembali fokus. Balapan seperti ini memang sangat berat, tapi kami akan belajar banyak darinya,” ungkapnya. “Kami perlu memahami apa yang salah dan bagaimana membuat mobil lebih mudah dikendarai di sirkuit-sirkuit teknis seperti ini.”
Kesimpulan
GP Singapura 2025 menjadi ujian nyata bagi Pierre Gasly dan tim Alpine. Kondisi lintasan yang ekstrem, ditambah performa mobil yang kurang kompetitif, membuatnya harus berjuang keras dari awal hingga akhir. Meskipun hasilnya tidak memuaskan, semangat dan keteguhan Gasly menunjukkan bahwa ia tetap berkomitmen membawa Alpine keluar dari masa sulit. Kini, fokusnya tertuju pada perbaikan performa menjelang GP Jepang, di mana ia berharap bisa menebus penderitaannya di Marina Bay dengan hasil yang lebih baik.
